Kalkulator Customer Lifetime Value (CLV)
CLV menunjukkan berapa nilai satu pelanggan selama menjadi pelanggan kamu. Dari angka ini kamu tahu berapa biaya maksimal yang masih masuk akal untuk mendapatkan satu pelanggan baru.
- Gratis
- Tanpa daftar
- Hasil langsung muncul
Hasil
Dapatkan saran budget akuisisi
Kami kirim hasil ini plus batas budget akuisisi yang aman untuk bisnis kamu lewat WhatsApp. Gratis.
Apa itu customer lifetime value?
Customer lifetime value (CLV atau LTV) adalah total nilai yang diberikan satu pelanggan selama dia terus membeli dari bisnis kamu. Bisnis dengan pembelian ulang tinggi, seperti F&B, kosmetik, atau layanan berlangganan, bisa mengeluarkan biaya akuisisi lebih besar karena nilai pelanggannya berlanjut.
Rumus CLV sederhana
CLV omzet = nilai per transaksi × frekuensi beli per tahun × lama jadi pelanggan
CLV profit = CLV omzet × margin kotor
CAC maksimal ≈ CLV profit ÷ 3
Rasio 3:1 antara CLV dan CAC sering dipakai sebagai patokan umum: setiap Rp1 biaya akuisisi menghasilkan sekitar Rp3 profit kotor selama masa pelanggan. Sesuaikan dengan kebutuhan arus kas dan biaya operasional bisnis kamu.
Cara menaikkan CLV
- Naikkan frekuensi beli lewat program member, pengingat stok habis, atau konten yang relevan.
- Naikkan nilai transaksi dengan bundling dan rekomendasi produk pelengkap.
- Perpanjang masa pelanggan dengan layanan purna jual yang konsisten.
Sudah tahu CAC kamu dari kampanye iklan? Hitung dulu dengan kalkulator cost per lead dan CAC.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa beda CLV dan LTV?
Keduanya merujuk ke konsep yang sama, yaitu nilai pelanggan sepanjang hubungan dengan bisnis. Istilah yang dipakai berbeda menurut kebiasaan tim atau industri.
Bagaimana menghitung lama jadi pelanggan?
Lihat data pelanggan lama: berapa lama rata rata mereka terus membeli sebelum berhenti. Kalau datanya belum ada, mulai dengan estimasi konservatif.
Apakah CLV berlaku untuk bisnis B2B?
Berlaku, bahkan sangat penting. Kontrak berulang atau perpanjangan layanan membuat CLV B2B bisa jauh lebih besar dari nilai transaksi pertama.
Kenapa memakai margin, bukan omzet?
Karena biaya akuisisi dibayar dari profit, bukan dari omzet. CLV berbasis omzet sering membuat bisnis terlalu agresif mengeluarkan biaya akuisisi.